Tuesday, February 03, 2009

Obama dan Kita Menjelang Pesta Demokrasi 09



Oleh Wahyuddin Halim

Dua puluh Januari lalu, Barack Obama resmi dilantik jadi presiden ke-44 Amerika Serikat. Pesta akbar demokrasi negeri adidaya itu pun usai. Sejumlah rekor baru dalam sejarah politik AS dipecahkan Obama. Presiden pertama AS dari keturunan kulit hitam. Dana kampanye yang berhasil dia kumpulkan sekitar US$ 1 milyar (Chicago Tribune, 5/12/08). Membukukuan rekor jumlah khalayak victory speech, lebih 240,000 orang, di Grant Park, Chicago (5/11/08). Saat inaugurasinya, lebih 2 juta orang memenuhi alun-alun the National Mall di tengah cuaca musim dingin yang menusuk tulang. Rekor sebelumnya 1,2 juta orang saat pelantikan Presiden Lyndon B. Johnson (1964). Ratusan juta warga dunia lainnya juga turut menyaksikan dan merayakan peristiwa itu lewat jaringan TV dan internet. Maka inaugurasi Obama merupakan momen demokrasi terbesar dalam sejarah.

Namun, setelah euforia dan selebrasi global atas kemenangan Obama usai, apa yang dapat kita pelajari dalam konteks berdemokrasi di negeri kita, terutama menjelang pemilu April depan? Jika kita cermat membaca biografi politik Obama, sebenarnya takada yang benar-benar ajaib dan instan dari kesuksesannya jadi presiden. Namun, jika abai mengurai rahasia di balik sukses itu, para politisi yang spontan merasa terilhami dan terpantik semangatnya mengikuti jejak politik Obama akan kecele. Menurut saya, minimal ada lima ramuan rahasia sukses Obama.

Pertama, Obama memiliki kecerdasan akademik yang tinggi. Gelar B.A. bidang Ilmu Politik dia raih dari Universitas Columbia. Gelar Doktor Hukum (J.D.) dengan predikat magna cum laude dari Harvard, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Dia termasuk dalam 10 mahasiswa terbaik di fakultasnya, Law School. Saat di Harvard, Obama membukukan rekor baru, presiden berkulit hitam pertama jurnal ilmu hukum terkemuka, Harvard Law Review. Selama 12 tahun, dia pernah jadi dosen di Universitas Chicago yang sangat bergensi. Jadi, Obama jauh dari tipe politisi yang berpendidikan rendah dan malas membaca. Gelar-gelar akademiknya tidak diraih dari perguruan tinggi penjual ijazah/gelar tanpa kuliah, apalagi memalsukan ijazah untuk maccaleg. Begitulah, politisi yang baik idealnya punya pendidikan yang bermutu, bukan sekedar (membeli?) gelar yang banyak.

Kedua, jauh sebelum terjun ke kancah politik, Obama adalah seorang penggerak komunitas yang aktif membantu masyarakat di level akar rumput. Daftar organisasi sosial yang dia dirikan dan pimpin sangat panjang: Developing Communities Project, Gamaliel Foundation, Public Allies, Woods Fund of Chicago, Joyce Foundation, Chicago Annenberg Challenge, CLC for Civil Rights Under Law, Center for Neighborhood Technology, dan Lugenia Burns Hope Center. Organisasi-organisasi itu bergerak di bidang pendidikan, pelatihan, pendanaan, pemberdayaan, dan advokasi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, lingkungan, HAM, politik dan hukum.

Dalam bukunya, the Audacity of Hope, Obama mengakui, pengalamannya berorganisasi telah membentuk pendekatannya terhadap politik. Bahkan, kata P. Dreier, kemenangan Obama sebagai presiden yang berlatar belakang aktivis masyarakat, “akan mengilhami sebuah generasi baru aktivis organisasi” di AS (Dissent Magazine, 25/6/05). Itulah yang mengantarkannya menjadi senator di Senat Negara Bagian Illinois selama 8 tahun, lalu senator Illinois di Senat AS, sebelum menjadi presiden. Sayangnya, tulis Newsweek (14/1/08), faktor ini justru jarang dilihat banyak orang. Padahal, kesuksesannya banyak terkait dengan jaringan “organisasi politik yang luas dan dalam yang Obama bangun diam-diam sebagai persiapan untuk pencalonannya.” Karena itu, Obama bukanlah seorang politisi dadakan apalagi karbitan, yang tiba-tiba muncul karena faktor kebetulan dan keturunan. Bukan capres yang sekedar bermodal iklan TV yang hebat, tapi minus pengalaman bekerja untuk masyarakat bawah. Begitulah, politisi sejati harusnya lahir dari, bertumbuh bersama dan peduli rakyat kecil, bukan mengeksploitasi mereka.

Ketiga, Obama mendemonstrasikan kemampuannya sebagai seorang orator ulung (master orator). Para pakar menyebut cara Obama berpidato dan menyampaikan pesan kepada pemilih menjadi rahasia utama kemenangannya. Obama bahkan disebut sebagai “orator Amerika yang ideal,” atau paling ulung pada masanya. Lewat pidato-pidatonya, Obama mampu menyihir pendukungnya. Obama, tulis D. Remnick dalam The New Yorker (17/11/08), berhasil meraih dukungan warga AS bukan terutama karena prestasi politiknya, atau pelayanan heroik pada negaranya di masa muda. Rekam jejaknya di kedua hal itu masih minim. Keunggulannya justru terletak pada kekuatan pesan dan daya gugah pidato-pidatonya. Obama membawa pesan atau narasi yang mengilhami tentang perubahan (change) dan harapan (hope) di saat kondisi kehidupan begitu banyak orang di AS sedang dalam bahaya. Selama kampanye, Obama berhasil mewujudkan koalisi Amerika yang baru dan lebih luas. “We are one people. Our time for change has come”, "Change has come to America", “Change we can believe in,” adalah di antara jargon kampanyenya yang populer.

Menurut E. Haskins dari Universitas Iowa, pidato Obama yang lembut senantiasa menciptakan nuansa sejarah, tujuan, dan kontinuitas. Namun, pidato Obama bukan sekedar retorika, karena ia dilambari bobot dan kedalaman dengan ilustrasi yang nyata (Kompas, 20/11/09). Pidato-pidatonya merefleksikan wacana yang kompleks, filosofis, dan layak kutip (quotable words). Cara penyampaiannya pun memenuhi aturan klasik retorika yang baik: menggugah rasa, menyentuh jiwa dan menyehatkan akal pendengarnya.

Sungguh kontras dengan pidato dan jargon kampanye politik di Indonesia menjelang pilkada dan pemilu: kata-kata klise, pinjaman, hampa makna, tanpa jiwa, bahkan menyakiti akal. Tatabahasanya sederhana dan rancu. Data dan ilustrasinya takakurat dan relevan. Cara penyampaiannya jauh dari retoris. Begitulah, politik yang lebih berbasis popularitas, uang, dan keturunan hanya bisa memunculkan politisi instan yang gagap bicara, inkompeten, dan miskin integritas.
Keempat, Obama diakui memiliki kepribadian yang menarik: ramah, rendah hati, tenang, tulus, dan murah senyum. Dalam memoarnya, Dreams from My Father, Obama menyebut senyumnya yang ramah sebagai salah satu kunci pergaulannya dengan beragam orang. “Orang merasa puas sepanjang Anda sopan dan tersenyum.” Pada 25 Mei 2006, ketika menjadi pendamping dan penterjemah bagi 15 tokoh dari Indonesia peserta Community Leaders Program di AS, saya sempat berjumpa dan bersalaman dengan Obama, senator Illinois saat itu. Setiap Kamis pagi, kedua senator Illinois mengadakan Constituent Coffee untuk umum di Washington DC, khususnya bagi warga dari Illinois. Mengunjungi senator Illinois adalah salah satu agenda program. Ketika itu, sudah merebak kabar tentang rencana Obama dan Hillary Clinton maju dalam pilpres 2008.

Setelah mendengar pidato Obama dan Dick Durbin, tiap orang dapat giliran berfoto. Saat menyambut rombongan kami, Obama menyapa dalam bahasa Indonesia yang lancar dan pelafalan yang bagus, “O, ini dari Indonesia, ya?” Saya, yang berjalan di depan, menjawab “Ya.” “Dari mana? Jakarta? Medan? Surabaya?” tanya dia lagi tanpa menunggu jawaban. Saya lalu memujinya, “Anda rupanya masih dapat berbahasa Indonesia?” Dia menjawab, “Tapi saya sudah lupa banyak.” Namun, bukan itu yang paling mengesankan kami, tapi jabat tangannya yang erat dan ramah, seakan kami teman terdekatnya. Saya bisa merasakan denyut ketulusan persahabatan dan pandangannya yang setara pada kami. Kesan yang jarang muncul saat menjumpai politisi AS lainnya yang kadang angkuh dan basa-basi. Karena itu, satu kunci sukses: jadilah politisi yang tulus memperhatian setiap orang, tidak jaga image, dan hipokrit.

Kelima, gaya hidupnya yang bersahaja dan merakyat juga jelas menyumbang bagi kesuksesan politik Obama. Seperti kata Michelle, istrinya, gaya Barack yang santai membuatnya tidak peduli pada anggapan orang lain dan bagaimana mode dan penampilannya. Dia jauh lebih peduli pada persoalan dan pekerjaannya dalam masyarakat. Selama bertahun-tahun, katanya, Barack takbanyak berubah. Dia malah masih punya celana dan kemeja yang sama yang dia miliki ketika menikah dulu. Maka, lanjutnya, “saya geli sekali ketika orang bilang dia salah seorang pria berpakaian terbaik.” (Kompas, 3/1/09). Pengalaman politisi yang tidak termasuk kaya ini dalam membantu masyarakat bawah, membuatnya peka pada kondisi rakyatnya. Bandingkan dengan para caleg, legislator, dan pejabat kita yang tiap hari tampil gaya dengan kendaraan, pakaian, dan aksesoris mewah dan bermerek, sementara rakyat masih jauh dari hidup sejahtera. Maka jika Obama menolak saran para stafnya agar dia melepas perangkat komunikasinya, Blackberry, demi alasan keamanan, itu bukan soal gaya. Obama takmau kehilangan kontak langsung dengan rakyatnya.

Tentu saja, masih banyak yang bisa dipelajari dari Obama. Namun tulisan ini hanya mau mengingatkan, sukses Obama bukanlah sebuah kebetulan, tapi akumulasi dari kecerdasan, kepedulian sosial, kefasihan berbicara, kehangatan pribadi, dan kebersahajaan gaya hidup.

Friday, September 05, 2008

Panduan Untuk Calon Bupati


Setelah beberapa hari kedatangan bulan Ramadan tahun ini, saat meriang pilkada di beberapa daerah di Sulsel sedikit menurun, aku kedatangan pula seorang tokoh dari daerah kelahiranku. Entah mengapa, dia minta saranku atas rencananya ikut hajatan demokrasi di daerahnya tahun ini. Tapi lebih dari sekadar saran, aku malah mendiktekan semacam panduan yang kusebut ”Esprit.” Singkatan dari empat Si enam Prioritas.

Pertama, lakukan refleksi atas niat Anda ikut pilkada. Sungguh-sungguhkah Anda mau mengabdikan diri untuk kebaikan rakyat di daerah Anda? Tidakkah Anda sekedar tergoda kecenderungan meluapkan syahwat kuasa dan menumpuk-numpuk kekayaan? Atau tersulut gairah dan emosi mengalahkan calon lain? Jika kedua hal terakhir ini motivasinya, berhentilah! Malulah pada diri sendiri dan Allah untuk tetap ngotot maju. Sebab, niat menentukan proses dan resultan semua perbuatan. Menjadi bupati bukan sekadar faktor banyaknya bakat dan besarnya minat, tapi terutama sucinya niat.

Kedua, introspeksi potensi dan kualifikasi Anda sebagai cabup. Apakah Anda memiliki integritas moral, kematangan emosional, dan kecerdasan intelektual? Juga kecintaan pada kebenaran, pengetahuan, dan keadilan; kesederhanaan, keteguhan dan keberanian dalam hidup; serta kemantapan fisik dan kefasihan? Pendeknya, sebandingkah kualifikasi Anda dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab memimpin jutaan rakyat? Jika tidak, Anda ditakdirkan untuk gagal. Popularitas (lewat survei), deretan gelar akademik, karir militer bertabur bintang, modal milyaran rupiah, retorika yang memukau, titisan darah aristokrat atau tokoh pejuang, serta basis dukungan parpol yang kuat, takbisa serta-merta jadi ukuran kapabilitas dan kompatibilitas Anda menjadi bupati yang sukses.

Ketiga, investigasi peluang dan dukungan rakyat kepada Anda. Jangan kelewat yakin bakal menang. Jika kalah nanti, Anda bisa kecewa dan stress berat, atau bisa-bisa kalap bunuh diri. Selain survei, teliti sendiri mengapa rakyat mendukung Anda. Yakini, mereka memang tahu potensi dan kualitas kepemimpinan Anda, bukan sekedar ingat foto Anda. Selami alasan para pendukung setia menghela Anda maju agar tidak tertipu dan tereksploitasi. Antisipasi orang-orang oportunis dan kelompok kepentingan yang eksploitatif dan manipulatif menjadi tim sukses Anda. Bebaskan diri dari utang (budi) yang mustahil Anda tunaikan kelak kecuali ber-KKN. Hindari menebar janji dan konsesi ekonomi-politik jangka pendek kepada para pendukung Anda. Rangkul hati rakyat dengan mengkomunikasikan secara ugahari niat tulus Anda mengabdi pada mereka.

Keempat, lakukanlah kontemplasi atau meditasi. Sebagai manusia biasa, Anda takbisa memastikan sendiri “kebaikan” jabatan bupati untuk diri, keluarga Anda, dan terutama rakyat. Berkonsultasi langsunglah dengan Allah (misalnya lewat salat tahajud dan istikharah). “Ya Allah Yang Mahatahu, jika jabatan bupati kelak akan membawa kebaikan bagi dunia dan akhiratku, diri dan rakyatku, mudahkanlah bagiku meraihnya. Namun, jika jabatan itu hanya baik bagi duniaku, diri dan keluargaku, tapi membawa mudarat bagi rakyatku, jauhkanlah ia dariku sejauh-jauhnya.”

Jika jawaban keempatnya positif, mulailah sosialisasikan visi, misi dan platform kerja Anda. Jangan hanya tebar pesona, citra, retorika, dan dana. Itu hanyalah gaya politik feodal dan kampungan. Sekadar pola, kusarankan minimal ”Enam Prioritas.”
Pertama, prioritaskan kualitas pemerataan kesejahteraan rakyat. Sudah sangat klise memang, tapi ini merupakan prakondisi penting bagi akselerasi pembangunan bidang lainnya. Pertumbuhan ekonomi secara akumulatif tanpa pemerataan kualitas kesejahteraan akan berujung pada krisis sosial-ekonomi yang akut dan ajeg: konflik horizontal, KKN, kriminalitas, dsb. Kebijakan pembangunan Orde Baru selama lebih tiga dekade adalah contoh yang tedas. Dengan payung Otda, optimalkan keunggulan kompetetif dan komparatif SDM dan SDA daerah Anda sembari tetap mempertahankan nilai dan tradisi sosial-budaya dan kelestarian lingkungan hidup. Jadikanlah kebebasan, kesetaraan, kejujuran, keadilan dan kegotongroyongan sebagai prinsip-prinsip utama kebijakan ekonomi Anda.

Kedua, lecutlah peningkatkan kualitas pendidikan. Walau ini masalah klasik, tapi pendidikan adalah faktor terpenting dalam peningkatan kualitas SDM sebuah bangsa. Ironisnya, pendidikan kita selama lebih tiga dekade terakhir telah gagal menempa generasi yang tangguh secara moral dan intelektual serta berdaya saing global. Ketimpangan anggaran, kerancuan orientasi, inkompetensi pengelola, sentralisasi kebijakan, dan semrawutnya tata-kelola adalah faktor-faktor terpenting kegagalan itu. Maka, alokasikanlah APBD untuk pendidikan sebesar mungkin (bukan hanya 20 %) sesuai kemampuan daerah. Ketimbang megaproyek bisnis mercusuar, prioritaskanlah pembangunan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan, misalnya pendirian perpustakaan atau taman baca di tiap desa dan kecamatan. Setarakan status dan prestise sosial-ekonomi para perkerja di bidang pendidikan dengan karyawan bidang bisnis dan industri.

Ketiga, sesegera mungkin tegakkan keadilan hukum secara tegas dan tegar. Ini bukan sekedar retorika tapi menjadi salah satu prakondisi terpenting bagi tercapainya orde politik, ekonomi dan sosial yang jujur, adil, dan berkelanjutan. Good, clean and credible governance akan menumbuhkan kepercayaan, kecintaan dan kepatuhan rakyat. Untuk tujuan itu jagalah moralitas pribadi Anda (bebas KKN, narkoba, perselingkuhan dsj), tebarkan kecintaan pada rakyat, dan bangun kredibilitas, kapabilitas dan wibawa -- bukan kekuasaan. Beri peluang dan keluwesan dari bawah kepada komponen-komponen civil society untuk menjalankan inisiatif, peran perubahan, dan fungsi kontrol secara efektif dan konstruktif.

Keempat, segera selamatkan lingkungan hidup di daerah Anda. Kerusakan lingkungan yang semakin parah adalah masalah besar dan genting yang sedang kita hadapi secara regional, nasional dan global. Rentetan bencana alam dahsyat yang mendera sejumlah wilayah Nusantara sejak sepuluh tahun terakhir barulah sebagian kecil imbas pembangunan yang tidak tepat, tegas, terpadu, dan berpihak pada lingkungan. Pola pendekatan teknologis dan ekonomis terhadap lingkungan harus dibarengi pendekatan hukum, sosial-budaya dan etik-spiritual yang bisa bersumber dari agama dan kearifan lokal. Segera hentikan eksploitasi SDA secara massif dan taksabaran demi akumulasi PAD secara instan tapi mengakibatkan kerusakan abadi infrastruktur ekonomi rakyat.

Kelima, prioritaskan peningkatan kehidupan beragama yang fungsional, inklusif, dan toleran. Giatkan wacana dan aksi keagamaan yang berdimensi sosial, intelektual, kultural dan ekonomis. Nomorduakan pembangunan aspek ritual atau upacara keagamaan. Pembangunan bidang agama berhasil bukan karena peningkatan kuantitas pendirian rumah ibadah, jumlah jamaah haji, intensitas seremonial/ritual, atau produktivitas perda-perda bernuansa Syariat Islam, tapi karena kualitas toleransi antarumat beragama dan peran vital mereka membangun kualitas moral bangsa.

Keenam, reinvensi dan revitalisasi nilai-nilai unik sejarah dan budaya daerah yang dulu pernah berkembang secara kreatif. Kurangnya upaya restorasi dan revitalisasi nilai-nilai ini, ditambah terpaan globalisasi gaya hidup modern yang konsumtif, permisif, dan individualistik, membuatnya makin tergerus dan dilupakan. Padahal, jika dieksplorasi secara kreatif, ia akan memberi kita inspirasi, motivasi dan kebanggaan positif sebagai manusia Sulsel serta memperkokoh karakter kita sebagai sebuah bangsa. Jangan biarkan warisan tersebut memfosil dalam limbo sejarah. Semarakkan kembali wacana, kajian, pameran dan pagelaran seni-budaya Sulsel. Revitalisasi lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian bidang sosial-budaya.

Tentu saja identias tamuku itu takbisa dilacak karena dia memang takpernah benar-benar mendatangiku. Ya, dia hanyalah tokoh imajinerku, dan aku hanya sedang berimaginasi. Tapi daripada mual-mual saat berpuasa karena membaca jargon-jargon klise dan menggelikan di baliho dan spanduk pilkada sepanjang jalan di Sulsel, mungkin lebih enak membaca imaginasi seperti ini.