Posts

Kalau Aku Jadi Gubernur Sulsel

Menjadi seorang gubernur sebenarnya tidak pernah saya cita-citakan. Bukan karena jabatan itu mustahil saya gapai, entah di masa depan yang dekat atau jauh. Bukankah “ there is nothing impossible under the sun ,” kata sebuah pribahasa. Cita-cita sejati saya, secara spiritual, pada hakikatnya sama –jika takpongah disebut lebih-- mulia daripada sekadar menjadi seorang pejabat. Namun, mencermati perkembangan wacana tentang penjaringan bakal calon gubernur Sul-Sel dalam beberapa bulan terakhir ini, saya jadi tertarik untuk sekedar menawarkan kemungkinan visi dan gagasan saya jika menjadi gubernur Sul-Sel secara “imajiner”. Jauh sebelum saya menyatakan rencana saya mencalonkan diri jadi gubernur, insya Allah saya akan melakukan beberapa hal berikut, yang untuk mudahnya, saya singkat jadi empat “-si”. Pertama , saya akan melakukan refleksi atas niat saya menjadi seorang gubernur. Saya harus haqqul yaqin , motivasi dan niat sejati saya menjadi gubernur adalah untuk mengabdikan diri demi kem...

Nasib Umat dalam Pilkada

“Saya mewaqafkan diri saya kepada umat,” kata seorang birokrat ketika namanya sempat disebut-sebut bakal diajukan koalisi parpol ikut pilkada gubernur tahun lalu. “Saya sih terserah aspirasi umat saja,” sergah seorang mantan balon lainnya mantap. “Dia tokoh yang mewakili umat,” seru sejumlah orang dengan bersemangat ketika seorang aktivis komite akhirnya dihela koalisi parpol terjun dalam kompetisi pilkada. Lalu ada bunyi poster pilkada, “Bangkit untuk umat dan bangsa.” Selain daftar panjang klaim, komentar, pernyataan politik, poster, banner dan baliho kampanye pilkada yang memuat kata “umat,”ada tiga parpol yang membentuk koalisi ”keumatan.” Namanya mengasumsikan diri sebagai representasi aspirasi politik umat. Seperti diketahui, belakangan koalisi ini lalu menjadi koalisi keumatan dan kebangsaan . Menjelang pilkada gubernur kemarin, ungkapan “umat” ( ummat ) kerap menyeruak dalam wacana parpol yang sedang menandu cagub/wagub. Klaim-klaim para dalang, pialang dan petualang polit...

Arung, Topanrita dan Relasi Kuasa di Sulsel

Bagaimana idealnya hubungan cendekiawan vis a vis kekuasaan? Ada yang berpendapat, cendekiawan seharusnya tidak terlibat dalam kekuasaan. Yang lain melihat cendekiawan bisa berperan ganda; sebagai birokrat yang baik sembari tetap berperan sebagai intelektual yang jernih dan kritis. Namun, karena cendekiawan ( intellectual ) pada dasarnya lebih merupakan kapasitas dan kualitas ketimbang status dan posisi, cendekiawan dan kekuasaan sesungguhnya tidak perlu diposisikan kelewat dikotomis. Mengikuti Antony D. Smith (1981:109) yang melekatkan istilah intellectual untuk a type of personality and mental attitude, dapat dikatakan, kecendekiaan adalah kapasitas pribadi yang bisa dimiliki siapa pun sekaligus akumulasi peran seseorang di bidang-bidang non-intelektual, termasuk birokrasi. Dengan alur argumen demikian, seorang cendekiawan takperlu dianggap kehilangan kecendekiaan hanya karena dia memegang kekuasaan formal dalam masyarakat. Banyak tokoh dalam pentas politik nasional yang bisa dija...

Manusia Beradab melahirkan Masyarakat Biadab?

Syeikh Muhammad Abduh, seorang pemikir Muslim modernis terkemuka dari Mesir, suatu ketika menemukan paradoks luar biasa. Kota Paris yang suatu ketika dia kunjungi begitu teratur dan bersih. Sementara kota asalnya sendiri, Kairo (Mesir), demikian semrawut dan kotor ketika itu. Dia sedih, kebersihan adalah salah satu ajaran penting Islam, tapi warga Kairo yang mayoritas Muslim justru tidak memiliki budaya bersih seperti warga kota Paris yang umumnya sekular. Dalam salah satu ceramahnya, Jalaluddin Rakhmat, pemikir Islam Indonesia dari Bandung, mengurut tiga bandara internasional yang paling tidak aman menurut para wisatawan dunia karena tingginya tingkat manipulasi dan pungutan dari petugas imigrasi dan bea cukai atau kasus penipuan petugas porter dan supir taxi bandara. Tragisnya, bandara-bandara yang dimaksud justru terdapat di negara berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu bandara Kairo (Mesir), Karachi ( Pakistan ) dan Cengkareng ( Indonesia ). Sebaliknya, bandara internasional y...

Jusuf dan Empat Kualitas Utama Manusia Sulsel

by   pcmidkijakarta Menelaah keragaman dimensi perilaku sosok pahlawan dalam tradisi tutur masyarakat sulsel masa lampau, baik yang faktual maupun  imaginer. Pengamatan cermat atas perilaku mereka  menghasilkan gambaran unik tentang  mentalitas orang – orang Sulsel, khususnya bugis, dimana terdapat empat kualitas dinilai paling utama, yang lebih dikenal dengan   “ sulapa’ eppa ” ( empat sisi).  menurut lontara, empat kualitas ini sangatlah esensial  dimiliki setiap  pemimpin yang  baik. Kualitas yang dimaksud adalah  berani ( warani ), cerdas (   macca ), kaya ( sugi )  dan taat beragaman ( panrita ) ( pelras, 1996 ) .           Prototipe  paling masyhur seorang pemberani ( to-warani  ) dalam literature klasik bugis sudah pastilah Sawerigading.  Dalam epik La Galigo,  personafikasi Sawerigading  adalah sosok pemberani dua dimensi. Di satu saat, dia gam...

Beda Anre Gurutta dan Pak Ustadz

Lisanul hal afsahu min lisanul qaul . Perbuatan lebih fasih daripada perkataan. Demikian sebuah pepatah Arab yang kerap dikutip untuk menunjukkan perlunya keteladanan dalam dakwah dan pengajaran. Bahasa lisan memang perlu, namun bahasa tubuh kerap jauh lebih mujarab mengajak seseorang mengikuti kebaikan yang diserukan. Kemujaraban perbuatan atas perkataan dalam dakwah mungkin bisa diuji selama Ramadan, bulan saat umat Islam menggiatkan diri dalam ibadah ritual. Di Indonesia khususnya, Ramadan telah menjadi kalender tetap umat Islam untuk menambah pengetahuan keagamaan mereka melalui beragam media dakwah (Islam). Selain di masjid, musholah dan tempat-tempat yang “disulap” menjadi tempat tarawih selama Ramadan, dakwah juga semakin semarak di media cetak dan elektronik. Begitu fenomenalnya trend ini, hampir tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memperoleh dakwah agama di bulan Ramadhan. Dakwah pun sudah menyusup ke ruang-ruang surfing atau chatting di internet. Singkatnya, dakwah tela...

Formalisasi Syariat Islam di SulSel: Wacana yang Jadi Mistik

Mungkin pada awalnya tidak ada yang menduga kalau ikhtiar sekelompok Muslim Sulsel memperjuangkan penerapan “syariat Islam” di daerah mereka akan jadi fenomenal. Kenyataannya, upaya mereka yang termasuk dalam kelompok pejuang formalisasi “syariat Islam” (selanjutnya disingkat PFSI, Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam [KPPSI] adalah salah satunya) ini kini mengundang perhatian semakin banyak kalangan. Puluhan seminar dan kongres tentang gagasan ini telah dilaksanakan, baik yang berskala regional, nasional maupun (yg diklaim berskala) internasional. Sama halnya, puluhan, jika tidak ratusan, artikel di surat kabar, majalah dan internet telah ditulis mengenai isu ini. Sebagai respon terhadap upaya ini, Pemda Sulsel juga pernah mengirim beberapa tokoh cendekiawan muslim, wakil rakyat dan birokrat ke Malaysia guna mencermati, sebagai bahan bandingan, kondisi beberapa negara bagian di negara jiran itu yang mendaku telah mengimplementasikan syariat Islam. Baru-baru ini sebuah tim Pemd...