Posts

Merekayasa Perjumpaan Dengan Lailatulkadar

Image
“ Whether we like it or not, we live surrounded by mysteries which logically and existentially lead us towards transendence .” (F. Schuon dalam  Echos of Perennial Wisdom ,1992, 3).(Suka atau tidak, hidup kita dilingkupi oleh misteri-misteri yang secara logis dan eksistensial membawa kita kepada transendensi). Lailat al-qadar atau lailatulkadar (dalam KBBI) adalah salah satu misteri dalam kehidupan Muslim yang juga dapat membawa kepada transendensi. Karena merupakan misteri, peluang interpretasi tentang waktu, makna, dan hakikat peristiwa itu selalu terbuka. Para ulama pun telah menulis ribuan buku yang mengurai misteri ini. Maka tiap Ramadhan tiba, lailatulkadar menjadi sebuah momen yang paling ditunggu-tunggu kaum muslim. Alquran menyebut malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Dengan seizin Allah, para malaikat dan ruh (jibril) turun ke bumi, mengatur segala perkara. Kedamaian pun tercipta hingga fajar menyingsing (al-Qadr: 3-5). Dalam penjelasan klasiknya, ...

Masjid-masjid yang Mengusik Keheningan Ramadan

Jarum jam baru menunjuk pukul dua dini hari. Suara azan dari sebuah menara masjid di satu kompleks perumahan di Makassar tiba-tiba memecah kesenyapan. Dengan tergopoh-gopoh, seorang warga baru di kompleks itu membangunkan sang istri. Dia yakin, itu azan subuh dan waktu imsak tentu sudah lewat. Tapi setahunya, jika sempat bangun persis saat azan digemakan, masih boleh meneguk segelas air untuk sekedar meringankan puasa hari itu. Anehnya, tidak lama setelah azan berakhir, dia sempat menoleh jam dinding. Baru pukul dua rupanya. Awalnya dia ragu, jam dindingnya mungkin macet. Tapi ketika beberapa masjid sekitar kompleks mulai berkoar-koar “Sahur, sahur..”, dia mafhum, azan yang barusan dia dengar bukan panggilan salat Subuh. Di pagi harinya dia baru tahu dari tetangganya, azan jam dua itu untuk membangunkan warga sekitar masjid salat malam. Ini baru sepenggalan pendek kumpulan panjang kisah nyata orang-orang yang merasakan “kegaduhan” dari loudspeaker sejumlah masjid tiap kali Ramadan d...

Obama dan Kita Menjelang Pesta Demokrasi 09

Image
Oleh Wahyuddin Halim Dua puluh Januari lalu, Barack Obama resmi dilantik jadi presiden ke-44 Amerika Serikat. Pesta akbar demokrasi negeri adidaya itu pun usai. Sejumlah rekor baru dalam sejarah politik AS dipecahkan Obama. Presiden pertama AS dari keturunan kulit hitam. Dana kampanye yang berhasil dia kumpulkan sekitar US$ 1 milyar (Chicago Tribune, 5/12/08). Membukukuan rekor jumlah khalayak victory speech, lebih 240,000 orang, di Grant Park, Chicago (5/11/08). Saat inaugurasinya, lebih 2 juta orang memenuhi alun-alun the National Mall di tengah cuaca musim dingin yang menusuk tulang. Rekor sebelumnya 1,2 juta orang saat pelantikan Presiden Lyndon B. Johnson (1964). Ratusan juta warga dunia lainnya juga turut menyaksikan dan merayakan peristiwa itu lewat jaringan TV dan internet. Maka inaugurasi Obama merupakan momen demokrasi terbesar dalam sejarah. Namun, setelah euforia dan selebrasi global atas kemenangan Obama usai, apa yang dapat kita pelajari dalam konteks berdemokrasi d...

Panduan Untuk Calon Bupati

Image
Setelah beberapa hari kedatangan bulan Ramadan tahun ini, saat meriang pilkada di beberapa daerah di Sulsel sedikit menurun, aku kedatangan pula seorang tokoh dari daerah kelahiranku. Entah mengapa, dia minta saranku atas rencananya ikut hajatan demokrasi di daerahnya tahun ini. Tapi lebih dari sekadar saran, aku malah mendiktekan semacam panduan yang kusebut ”Esprit.” Singkatan dari empat Si enam Prioritas. Pertama, lakukan refleksi atas niat Anda ikut pilkada. Sungguh-sungguhkah Anda mau mengabdikan diri untuk kebaikan rakyat di daerah Anda? Tidakkah Anda sekedar tergoda kecenderungan meluapkan syahwat kuasa dan menumpuk-numpuk kekayaan? Atau tersulut gairah dan emosi mengalahkan calon lain? Jika kedua hal terakhir ini motivasinya, berhentilah! Malulah pada diri sendiri dan Allah untuk tetap ngotot maju. Sebab, niat menentukan proses dan resultan semua perbuatan. Menjadi bupati bukan sekadar faktor banyaknya bakat dan besarnya minat, tapi terutama sucinya niat. Kedua, introspeksi pot...

Keberagamaan yang Kekanak-kanakan

Dalam salah satu mailing list di internet, seorang teman mempertanyakan relevansi agama bagi kalangan ilmuan. Dia mengurai sejumlah riset ilmiah yang berimplikasi pada kesimpulan, semakin pintar seseorang, semakin ragu dia terhadap perlunya agama dalam kehidupan. Dia bertanya, “Apakah Tuhan dan agama memang hanya konsumsi orang bodoh?” Sehingga, “Semakin bodoh (dan lemah dan miskin) seseorang atau suatu kelompok, semakin percaya mereka pada Tuhan dan resep-resep agama?” Dalam diskusi itu, saya menawarkan sebuah jawaban panjang yang ringkasannya berikut ini. Jika kebodohan identik dengan kekanak-kanakan, maka jawaban atas pertanyaan di atas adalah afirmatif. Mengapa? Bagi banyak filosof, agama terutama diperlukan oleh seseorang yang masih berada pada fase “kanak-kanak.” Pada tahap ini, secara potensial dan aktual, akal manusia belum sepenuhnya berkembang untuk melakukan refleksi intelektual yang mandiri guna menjawab problem hidup mereka. Sejumlah filosof dan teolog Muslim rasional s...

Seolah-olah Puisi Ramadan

(#1) Welcome Ya Ramadan Ramadan penuh berkah Dalam geliat doa dan dosa Di puncak kepayang pada dunia Kau datang lagi tanpa gegap gempita Bersamamu, padamu Harapanku menggebu Mengurai buhul dosa membatu Menabung obral pahala Mendapat perisai api neraka Tapi selalu kudisiksa ragu Tentang keluasan ceruk hatiku Juga kelapangan waktuku Menerima dan memanfaatkan kedatanganmu Sementara rasa sesak di dada bergemuruh Menggema keras melintas lembah Aku mengalir diam luluh Seperti air mata tumpah ruah Pelan-pelan hatiku menangis pilu Meratapi diri yang tak kunjung tipu Sementara aku menampung awan kelabu Untuk sekejap curahan air mata biru Sebagai isyarat luluhnya hati yang beku Pendulum waktu mengayun kencang Dan Ramadan terus mengalir tenang Lalu membumbung kembali ke langit terang Meninggalkanku yang sedang gamang Tuhan Kalau bukan karena kasih-Mu Aku akan selalu gagal menemui-Mu Karena aku-ku terselimuti tujuh tirai biru Yang menghalangi pandanganku ke...

Kapankah Kita Akan Bahagia?

Image
Tulisan berikut adalah salah satu posting saya di milis UIN-Makassar@yahoogroups.com Seringkali kita merasa kebahagiaan itu baru bisa tercapai di masa depan yang masih sangat jauh, dan kita sering merasa begitu yakin bahwa masa depan yang kita bayangkan itu akan tercapai sesuai rencana kita. Karena itulah, seringkali detik demi menit demi jam demi hari demi minggu demi bulan demi tahun demi dekade demi perempatan abad, bahkan demi paruh abad dan demi millenium, setiap moment dalam hidup kita kita habiskan hanya untuk memburu dan terus memburu angan-angan dan cita-cita tersebut. Akibatnya hak tubuh sering kita abaikan, hak rohani kita ketepikan, hak keluarga kita acuhkan, hak masyarakat kita langgar, hak Tuhan kita lupakan....lalu kita pun lupa pada diri kita sendiri: kita ini siapa? kita ini ada di sini dan saat ini untuk apa? dan kita ini mau ke mana? dan apakah itu KEBAHAGIAAN..??? Kata Allah, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mer...